Kembali ke koleksi
Perempuan di pulau Siau terpaksa harus mengambil air jauh dari rumah merekaFoto: Zonautara.com/Jufri Kasumbala
JIKS-232164 · kemarau

Air bersih harus beli, mencuci pakai air payau

Cherry Paat, 40 · Ibu Rumah Tangga

Desa Mini, Kecamatan Siau Barat Utara, Sitaro 11 Agustus 2026
Pokoknya ketika butuh air, berapa pun uang di tangan itu digunakan untuk membeli air.

Lebih dari tiga bulan tanpa hujan mengubah cara Cherry Paat mengurus rumahnya di Desa Mini, Kecamatan Siau Barat Utara. Sisa air hujan di bak penampungan tidak lagi digunakan untuk semua kebutuhan. Cherry menjaganya khusus untuk memasak.

Rumah Cherry berada jauh dari jalan raya sehingga pembelian air dalam tandon tidak mudah dilakukan. Keluarganya membeli air dalam galon berukuran 25 liter seharga Rp7.000. Air itu digunakan dengan urutan kebutuhan yang ketat. Pada pagi hari, air diprioritaskan bagi anaknya yang harus berangkat sekolah. Untuk mandi, setiap orang dapat menggunakan sekitar 10 liter atau pergi ke pantai pada sore hari.

Mencuci pakaian juga telah berpindah dari rumah ke pantai di Desa Kanawong. Cherry mengatakan ia berkomunikasi dengan ibu-ibu lain untuk mengatur jadwal mencuci sekitar sekali seminggu. Mereka menggunakan air payau yang tersedia tanpa biaya, tetapi perjalanan dan kegiatan mencuci dapat menghabiskan sebagian besar hari. Pada saat wawancara, Cherry mengatakan sudah lebih dari sepuluh kali pergi mencuci ke pantai selama masa kekurangan air.

Pemerintah daerah pernah mengisi bak penampungan desa. Namun, menurut Cherry, jatah dua galon untuk setiap rumah tidak mencukupi kebutuhan keluarga.

Pembelian air akhirnya mengambil tempat di atas hampir semua rencana belanja lainnya. “Pokoknya ketika butuh air, berapa pun uang di tangan itu digunakan untuk membeli air,” katanya.

Tentang sumber

Cerita ini disusun dari wawancara warga pada 11 Agustus 2026.