“Bagi kami, banjir atau kemarau sama saja. Sama-sama membuat rugi kami. Kalau banjir habis tanamannya, kalau panas ada tanamannya tapi kering.”
Nyoman Kartini, 54 tahun, dan Komang Sudiase, 79 tahun, diwawancarai di Penggilingan Padi Dewi Sri, Desa Toraut Utara, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, pada 13 Agustus 2026. Mereka telah lebih dari 15 tahun bertani sawah dan juga bekerja harian dengan menjemur padi ketika pekerjaan tersedia.
Suami istri ini menggambarkan aliran irigasi yang semakin kecil. Air harus dibagi dengan petani di Mopuya dan dapat memicu perselisihan. Sawah mereka sudah ditanami dan padi baru berumur dua minggu. Jika air habis, tanaman tidak dapat dilanjutkan. Modal sekali tanam disebut mencapai Rp12 juta, terutama untuk obat hama.
Mereka mengatakan tidak menerima informasi dari penyuluh atau pemerintah desa agar menunda tanam menjelang kemarau. Ketika air terbatas, petani menanggung sendiri risiko kerugian. Penggilingan padi juga tidak selalu menerima pasokan. Nyoman menyebut dirinya dan suaminya mencari pekerjaan harian sambil menunggu sawah.
Menurut mereka, banjir maupun kemarau sama-sama merusak tanaman. Banjir besar pernah terjadi pada 2024, sedangkan kemarau membuat air tidak dapat mengalir ke sawah. Petani juga menghadapi tikus, harga obat, pupuk, traktor, dan upah buruh yang meningkat. Mereka berharap pemerintah memperhatikan kebutuhan petani dan memperbaiki akses sarana produksi.
Cerita ini disusun dari wawancara warga pada 13 Agustus 2026.
Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol