“Dampaknya pohon menjadi kekurangan air sehingga buahnya menjadi rusak dan gagal panen.”
Calvein Kalensang, 59 tahun, adalah petani pala di Desa Batubulan, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Ia diwawancarai pada 11 Agustus 2026 di rumahnya dekat perbatasan Kawahang dan Batubulan, ketika sedang mengeringkan buah pala.
Belajar dari kemarau sebelumnya, Calvein membangun dua bak penampungan air. Ukuran permukaannya disebut sekitar dua kali dua meter dan dua kali tiga meter, tetapi kedalamannya tidak dijelaskan. Persediaan itu membuat keluarganya belum perlu membeli air setelah lebih dari tiga bulan tanpa hujan.
Cadangan air belum mampu melindungi seluruh tanaman pala. Daun mulai layu dan buah berkeriput. Calvein menyiram batang setiap sore dan belum menggunakan sistem infus. Air juga dibutuhkan untuk keluarga dan ternak; memandikan ternak disebut memerlukan hampir satu galon berukuran 25 liter setiap hari.
Calvein telah merawat pala sejak kecil dan mewarisi sebagian tanaman dari orang tuanya. Menurutnya, kebunnya dahulu dapat mengalami empat sampai lima panen besar dalam setahun, tetapi kini kadang hanya dua kali. Hujan berlebih juga dapat menjatuhkan buah sebelum matang. Ia mengatakan belum menerima bantuan khusus untuk tanaman pala.
Cerita ini disusun dari wawancara warga pada 11 Agustus 2026.
Foto: Zonautara.com/Jufri Kasumbala