Kembali ke koleksi
jejak iklimFoto: Zonautara.com/Jufri Kasumbala
Beban pengeluaran rumah tangga

Tiga Bulan Panas Merusak Buah Pala

Esly Serang, 52 · Petani pala

“Pala menjadi kecil dan berkeriput dan buahnya tidak banyak, dan sering jatuh sebelum panen.”

Esly Serang, 52 tahun, adalah petani pala di Desa Hiung, Kecamatan Siau Barat Utara, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Ia mulai mengelola tanaman secara penuh sejak usia 20-an. Esly diwawancarai pada 14 Agustus 2026.

Esly tinggal bersama istri dan seorang anak perempuan. Bak penampungan keluarga mulai kosong pada Juli setelah hujan tidak turun sejak akhir Mei atau Juni. Ia membeli satu tandon air berukuran 1.200 liter dengan harga Rp150 ribu. Bantuan air hanya dinilai cukup untuk kebutuhan memasak selama satu hari.

Kemarau juga memengaruhi puluhan pohon pala yang dikelolanya. Esly mengatakan buah menjadi kecil, berkeriput, dan kadang jatuh sebelum dipanen. Ia membandingkannya dengan kemarau hampir sembilan bulan pada masa lalu; tahun ini, menurutnya, kerusakan sudah terlihat dalam sekitar tiga bulan.

Hasil kebun pernah mencapai 50 kilogram. Menurut Esly, panen yang dahulu dapat berlangsung empat atau lima kali kini dapat turun menjadi dua kali dengan buah lebih sedikit. Harga pala kualitas baik disebut sekitar Rp68 ribu per kilogram. Untuk menjaga tanaman, ia menyiram pada malam hari atau menggunakan sistem infus, tetapi kedua cara itu tetap membutuhkan air.

Tentang sumber

Cerita ini disusun dari wawancara warga pada 14 Agustus 2026.