Kembali ke koleksi
jejak iklimFoto: Zonautara.com/Jufri Kasumbala
Gangguan mata pencaharian

Keluar Rp1,8 Juta untuk Air Kebun

Fendi · Petani hortikultura dan pala

“Kalau lebih lama saya lebih khawatir.”

Fendi adalah petani asal Desa Mini yang sedang membuka kebun baru di Desa Pehe, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Lahan hampir dua hektare itu berada dekat laut dan ditanami cabai, avokad, durian, serta pala. Ia diwawancarai pada 1 Agustus 2026.

Fendi mengatakan kekeringan telah mematikan banyak tanaman. Dari sekitar 1.200 tanaman cabai, tersisa lebih dari 700. Pala yang semula ditanam hampir 300 pohon disebut tinggal lebih dari 70 pohon. Angka tersebut perlu dikonfirmasi karena transkrip mengandung beberapa salah ketik.

Untuk mencegah seluruh tanaman mati, Fendi membeli air dan menyiram kebun dua kali sehari, pada pagi dan sore. Ia menyebut satu kali pemesanan terdiri dari empat tong dengan harga Rp150 ribu per tong. Jika memesan tiga kali dalam dua minggu, ia memperkirakan pengeluaran mencapai Rp1,8 juta.

Fendi khawatir jika kondisi kering berlangsung lebih lama. Pada saat wawancara, ia mengatakan belum menerima bantuan bibit maupun air. Kapasitas tong hanya ditulis “1100” tanpa satuan yang jelas, sehingga tidak digunakan sebagai ukuran pasti dalam cerita.

Tentang sumber

Cerita ini disusun dari wawancara warga pada 1 Agustus 2026.