“Kalau membeli air terpaksa kebutuhan lain dihilangkan seperti bedak dan lainnya, karena sudah kebutuhan bertambah di air.”
Arwani Balau, 50 tahun, tinggal di Desa Kawahang, Kecamatan Siau Barat Utara, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Ia tinggal bersama enam anggota keluarga. Saat diwawancarai pada 12 Agustus 2026, Arwani mengatakan hujan tidak turun sejak Juni.
Setiap kali memesan, Arwani membeli 20 galon air berukuran 25 liter dengan harga Rp7 ribu per galon. Air itu diprioritaskan untuk memasak dan ternak babi. Untuk mandi dan mencuci, keluarga pergi ke pantai. Seorang anak yang harus bersekolah pada pagi hari mendapat jatah lima liter air untuk mandi.
Rumah Arwani jauh dari jalan utama dan sulit dijangkau mobil tangki. Karena itu, ia memilih membeli galon. Bantuan dari pemerintah dan anggota DPRD pernah diterima beberapa kali, tetapi pembagian dua galon untuk setiap rumah dinilai tidak cukup bagi kebutuhan keluarga.
Pengeluaran untuk air membuat Arwani menghilangkan kebutuhan lain, termasuk perlengkapan pribadi. Ia mengatakan kemarau terjadi setiap tahun, tetapi tahun ini terasa lebih berat dan berlangsung lebih lama. Debu menumpuk dan sebagian pepohonan di Kawahang mulai mengering.
Cerita ini disusun dari wawancara warga pada 12 Agustus 2026.
Foto: Zonautara.com/Jufri Kasumbala