Anton Moha kehilangan rumah berdinding papan ketika Sungai Milangodaa meluap. Warga membaca suara batu dari sungai sebagai tanda untuk bersiaga, sementara keamanan permukiman bergantung pada kondisi tanggul.
Bak di rumah Golfried Lumuhu menjadi tempat menampung bantuan air bagi warga Kawahang. Ketika bantuan habis, ia membeli 1.200 liter air seharga Rp300 ribu yang hanya bertahan sekitar satu minggu.
Esly Serang membeli air setelah bak keluarganya kosong. Ia mengatakan tiga bulan kemarau sudah membuat buah pala mengecil dan berkeriput, sementara hasil panen serta harga pala menurun.
Dua bak penampungan membuat keluarga Calvein Kalensang belum perlu membeli air. Namun, lebih dari tiga bulan tanpa hujan membuat daun pala layu dan buah berkeriput hingga terancam gagal panen.
Ratusan tanaman cabai dan pala Fendi mati saat kebun barunya mengalami kekeringan. Untuk menjaga tanaman yang tersisa, ia memperkirakan mengeluarkan Rp1,8 juta untuk membeli air selama dua minggu.
Setelah lebih dari tiga bulan tanpa hujan, Cherry Paat menyimpan sisa air bak untuk memasak dan membeli air untuk mandi. Ia bersama para ibu pergi ke pantai untuk mencuci menggunakan air payau.
Hendra Kuera memilih bolak-balik mengangkut air gratis agar uang keluarga tidak habis untuk membeli air. Pekerjaan itu harus dibagi dengan waktu berkebun dan dapat terganggu ketika gelombang tinggi.
Arwani Balau membeli 20 galon air untuk enam anggota keluarga dan ternaknya setiap kali memesan. Air dibatasi untuk memasak dan ternak, sementara keluarga mandi dan mencuci di pantai.
Sumber air tempat sapi minum mengering dan Ending Paputungan harus membawa 200 liter air dari rumah setiap hari untuk empat sapinya. Selama tujuh tahun beternak, ia mengatakan baru kali ini menghadapi keadaan tersebut.